HYYH Notes: Seokjin, Jungkook, Yoongi

image

Seokjin
Tahun 19, 2 Maret

(Karena sekolah di Korea memulai tahun ajaran baru di musim semi, ini adalah hari pertama sekolah di Korea.)

Aku mengikuti ayahku masuk ke dalam kantor kepala sekolah. Tempat ini lembap. Hari ke sepuluh sejak aku kembali dari Amerika. Kemarin aku dengar aku harus turun satu kelas karena sistem sekolah yang berbeda. “Kalau begitu tolong jaga dia”. Ayah menepuk pundakku dan aku merinding tanpa sadar.

“Karena sekolah adalah tempat yang berbahaya, maka diperlukan aturan”, Kepala Sekolah mengatakannya sambil menatap lurus ke arahku. Setiap kali Kepala Sekolah mengatakan sesuatu, lemak di wajahnya dan di sekeliling mulutnya akan bergerak juga dan bagian dalam dari taring hijaunya (mulut)  berwarna merah tua (T/N: Aku tidak terlalu yakin apa kata dalam Bahasa Korea aslinya namun pada dasarnya dia menggambarkan si Kepala Sekolah sebagai iblis).

“Jangan bilang Seokjin-goon juga berpikir demikian?”

Aku bisa merasakan ayahku menekan lebih kuat pada pundakku sementara aku berpikir bagaimana cara menjawab pertanyaan yang tidak terduga ini. Aku mengepalkan tangan saat aku merasakan tulang pundakku remuk. Aku gemetar dalam keringat dingin.

“Kau harus menjawabku bagaimanapun juga. Seokjin-goon harus jadi murid yang baik.”

Kepala Sekolah menatapku tanpa ekspresi. Ketika aku pada akhirnya mencicit “Ya”, rasa sakitku menghilang saat itu juga dan aku mendengar tawa dari ayahku dan Kepala Sekolah. Aku tidak bisa mengangkat kepalaku dan hanya bisa melihat sepatu ayahku dan Kepala Sekolah. Walaupun aku tidak tahu dari mana datangnya cahaya, cahaya itu membuatku takut.

——————————

Seokjin
Tahun 22, 11 April

(Tanggal yang sama dengan catatan Jungkook)

Aku datang ke laut sendirian. Lewat kamera laut itu tampak biru lebar dan seolah memeluk. Sama dengan cahaya matahari yang terpantul pada laut, angin yang bertiup pada pohon-pohon dan sama seperti sebelumnya. Jika ada yang berubah, itu adalah aku. Bersamaan dengan tombol shutter kutekan, aku tiba-tiba saja mengingat kembali saat 2 tahun dan 10 bulan yang lalu, namun saat itu menghilang dengan cepat. Kami duduk di sepanjang laut bersama, meskipun kami lelah dan kecewa namun setidaknya kami bersama.

Aku menyetir dan menginjak pedal gas, melewati pom bensin setelah terowongan. Aku menurunkan kaca jendela saat aku berhenti di dekat sekolah kami. Saat itu adalah malam di musim semi, udaranya hangat dan bunga sakura berjatuhan dari pohon yang berdiri di sisi dinding. Setelah melewati sekolah, beberapa persimpangan jalan lagi, belok kiri dan belok kanan. Aku melihat cahaya di pom bensin tempat Namjoon bekerja.

image

——————————

Seokjin
Tahun 22, 13 Juni

Setelah kembali dari laut itu, kami semua sendirian.

Kami tidak saling berhubungan seolah kami memang merencanakannya. Kami hanya mengasumsikan eksistensi kami dari graffiti yang ditinggalkan di jalan, pom bensin yang bercahaya terang, dan suara piano dari gedung tua. Ini adalah saat gambaran kemudian dari malam itu menjadi nyata bagaikan sebuah “penglihatan”. Kedua mata Taehyung tampak seolah mengeluarkan api, cara mata mereka memandangku seolah mereka telah mendengar sesuatu yang tidak dapat dipercaya, tangan Namjoon yang mencoba menghentikan Taehyung, serta aku yang tidak dapat menahan diri dan memukul Taehyung.

Tidak berhasil menemukan Taehyung yang melarikan diri, aku kembali ke asrama di dekat pantai dan tidak seorangpun ada di sana. Hanya pecahan cangkir kaca, noda darah yang mulai mengering, remah-remah kue, yang membawaku kembali pada apa yang telah terjadi beberapa jam lalu. Ada sebuah foto tergeletak di tengah semuanya. Dalam foto itu, kami berdiri bersama tersenyum sambil berpose dengan laut sebagai latar belakang.

image

Bahkan hari inipun, aku hanya berjalan melewati depan pom bensin. Hari di mana kami bertemu lagi akan datang. Suatu hari kami akan tersenyum bersama seperti di dalam foto. Hari di mana aku memiliki keberanian untuk menghadapi diriku sendiri sepenuhnya akan datang. Namun, sekarang, saat ini bukanlah saat yang tepat. Bahkan hari inipun, angin yang basah bertiup sama seperti pada hari itu. Dan detik selanjutnya, ponselku berdering seperti sebuah peringatan. Foto yang kugantung pada cermin di ruangan mulai bergoyang. Aku melihat nama Hoseok pada layarnya.

“Hyung, Jungkook mengalami kecelakaan malam itu.”

——————————

15 August Year 22
Seokjin

Saat dimana aku berhenti mendadak ketika menyetir jauh dari persimpangan dan mulai menyetir lebih cepat. Mobil di belakangku membunyikan klakson dengan kesal dan melewatiku, dan rasanya seperti seseorang bahkan mengumpat padaku namun aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena kebisingan kota. Aku melihat sebuah toko bunga kecil di pojok gang sebelah kanan. Aku tidak berhenti mendadak karena melihat toko bunga itu. Rasanya lebih seperti aku pernah melihat toko bunga itu setelah berhenti mendadak.

Aku tidak punya ekspektasi yang tinggi sampai pemilik toko yang menyusun dokumen di pojok toko bunga yang sedang diperbaiki di dalam menghampiriku. Aku sudah mengunjungi beberapa toko bunga namun tidak ada satupun penjual bunga yang tahu keberadaan bunga ini. Mereka menunjukan padaku bunga-bunga yang tampak mirip dari warnanya. Namun, aku tidak mencari sesuatu yang mirip. Setidaknya bunga itu harus asli. Si pemilik toko menatap wajahku setelah mendengar nama bunganya. Si pemilik kemudian bilang toko bunganya belum resmi dibuka namun mereka bisa mengirim dan bertanya padaku, “Mengapa kamu butuh bunga yang satu itu?”

Sambil memutar stir dan memasuki jalanan kembali, aku berpikir. Alasan mengapa aku membutuhkan bunga yang satu itu. Aku hanya punya satu alasan. Karena aku ingin membuat dia bahagia. Aku ingin melihatnya bahagia. Aku ingin menjadi orang yang baik.

——————————

Jungkook
Tahun 20, 25 Juni

(Tanggal yang sama dengan catatan Yoongi)

Debu bergesekan dengan jariku ketika aku menyentuh tuts piano. Suara dari tuts piano yang kutekan dengan keras berbeda dengan suara yang (Yoongi) Hyung mainkan. Sudah 10 hari sejak Hyung datang ke sekolah. Hari ini aku mendengar bahwa Hyung akan dikeluarkan dari sekolah. Namjoon Hyung dan Hoseok Hyung tidak mengatakan apa-apa. Aku juga tidak menanyakan apapun karena aku merasakan takut dalam kesunyian.

Dua minggu yang lalu, Hyung membuka pintu tempat rahasia kami. Hanya ada kami berdua. Saat itu sedang kegiatan open house. Kami tidak mau ada di kelas jadi kami pergi ke tempat rahasia. Hyung tidak berbalik dan terus memainkan piano. Sementara aku meletakkan dua meja jadi satu, menutup mataku dan berpura-pura tidur. Meskipun Hyung dan piano itu adalah dua hal yang terpisah, namun rasanya seperti mereka terhubung. Aku tidak tahu kenapa namun aku merasa ingin menangis ketika Hyung memainkan piano.

Aku bisa merasakan air mataku keluar jadi aku berbalik dan terus berbaring di atas meja.Tiba-tiba pintu dibuka, seperti dirusak. Suara piano juga langsung berhenti. Aku tersandung beberapa langkah dan terjatuh setelah menerima sebuah tamparan. Saat aku menahan dengan sabar omelan guru, suara guru itu tiba-tiba berhenti. Aku mendongak dan melihat Hyung berdiri di depanku dan mencengkeram bahu guru itu. Aku bisa melihat ekspresi guru itu lewat pundak Hyung dan melihat bahwa dia marah sampai ingin pingsan.

Menekan tuts piano, memainkan lagu yang Hyung mainkan sebelumnya. Apakah Hyung benar-benar akan dikeluarkan dari sekolah? Apakah dia tidak akan pernah kembali? Itu bukan hal yang luar biasa bagi Hyung ketika dia dimarahi, kan? Jika bukan karena aku, Hyung tidak akan terkena masalah dengan guru. Jika bukan karena aku, akankah Hyung masih di sini memainkan piano?

——————————

Jungkook
Year 22, 11 April

(Tanggal yang sama dengan catatan Jin)

Pada akhirnya, itu berubah seperti apa yang aku inginkan. Beberapa preman yang kutemui di jalan dengan sengaja menabrakku dan memukulku dengan keras. Mereka menatapku yang tertawa selagi dipukuli, dan bertanya apakah aku orang gila, dan memukul bahkan lebih keras lagi. Bersandar pada rolling door, aku melihat rumput yang berdiri sepertiku. Mereka jatuh setelah angin berhembus. Sama sepertiku. Aku merasa seperti akan menangis dan tersenyum lagi.

image

Ketika aku menutup mataku, aku sepertinya melihat ayah tiriku batuk, dan kakak tiriku tertawa di sampingnya. Keluarga ayah tiriku menatap ke arah lain dan mengatakan hal-hal tidak berarti. Seolah aku tidak ada di sana, seolah keberadaanku bukan apa-apa. Di depan mereka, ibuku hanya bisa mendengarkan dan melakukan sesuai (dengan yang disuruh). Debu dari lantai membuatku bersin, rasanya sakit seolah dadaku ditusuk pisau. Aku memanjat atap dari tempat konstruksi. Kota dipenuhi kegelapan. Aku memanjat di luar pagar dengan kedua tanganku terbuka lebar. Pada satu saat kakiku bergoyang dan aku hampir kehilangan keseimbangan. Jika aku mengambil satu langkah lagi, aku akan mati kan? Kupikir. Jika aku mati, maka biarkan semua ini berakhir. Tidak ada yang akan bersedih bahkan jika aku tidak ada.

——————————

Yoongi
Tahun 20, 25 Juni

Aku membuka pintu dengan mendorongnya, membuka laci terakhir dari meja belajar dan mengeluarkan sebuah amplop dari dalamnya. Ketika aku membalik amplop tersebut, sebuah tuts piano jatuh ke lantai dengan bunyi “tak”. Setelah beberapa saat, aku membuang tuts piano yang gosong itu ke tempat sampah dan berbaring di atas tempat tidur. Jantungku yang berdebar tak bisa tenang setelah sekian lama, aku menghembuskan napas, ada tanda arang di tanganku yang aku tak tahu bagaimana bisa di sana.

image

Aku sudah pergi ke rumah yang jadi berantakan setelah kebakaran, sendirian setelah pemakaman. Aku memasuki kamar ibuku, dan melihat piano yang terbakar tak bisa dikenali. Aku duduk setelah ragu-ragu. Cahaya matahari sore masuk dari jendela. Aku duduk di sana cukup lama. Pada sisa-sisa cahaya matahari terakhir, tuts piano seolah bergerak. Apakah ini sungguh tuts piano yang menghasilkan suara sebelumnya? Aku memikirkan berapa banyak ibuku telah menyentuh tuts piano ini. Untuk itu aku mencungkil satu keluar, menaruhnya di kantungku dan pergi.

Setelah sekitar 4 tahun, rumah itu selalu sunyi. Kesunyiannya membuat orang jadi gila. Setelah Ayah tidur pada jam 10 malam, segalanya menjadi bahkan lebih sunyi lagi sampai terasa menyesakan. Inilah aturan di rumah ini. Aku lelah karena aku harus tinggal dalam kesunyian seperti itu, mengikuti waktu dan aturan yang sudah ditentukan. Bukan hal yang sederhana mengikuti kondisi seperti itu namun apa yang lebih sulit adalah aku harus tinggal di rumah ini. Mengambil uang saku dari Ayah, makan malam dengan Ayah, mendengarkan omelannya. Kapanpun aku bercekcok mulut dengan Ayah, aku juga berpikir untuk meninggalkan Ayah dan melarikan diri dari rumah dan hidup sendiri dengan baik. Namun aku tidak pernah punya cukup keberanian untuk benar-benar melakukannya.

Aku bangun dari tempat tidur dan memungut tuts piano dari tempat sampah (yang ada di bawah meja belajar). Aku membuka jendela dan angin malam masuk. Apapun yang terjadi hari ini rasanya sama seperti bagaimana angin ini masuk dan menamparku. Aku menggunakan semua kekuatanku dan melempar tuts piano itu ke udara dingin. Sudah 10 hari sejak terakhir kali aku pergi ke sekolah. Kudengar aku akan dikeluarkan dari sekolah. Bahkan jika aku tidak mau, kurasa aku akan ditendang dari sekolah. Aku tidak tahu apakah pendengaranku yang berkurang namun aku tidak mendengar suara tuts piano jatuh ke lantai. Aku tidak akan bisa tahu tidak peduli betapa kerasnya aku memikirkan suara apa yang akan ada di sana ketika tuts piano jatuh ke lantai. Tidak peduli seberapa banyak waktu telah berlalu, piano itu tidak akan menghasilkan suara lagi. Karena aku tidak akan pernah memainkannya lagi.

——————————

Yoongi
Tahun 22, 7 April

Aku menghentikan langkahku setelah mendengar suara piano yang tidak mahir. Di area konstruksi yang terbuka ini, seseorang menyalakan tangki minyak dan aku bisa mendengar suara “kratak” dari api. Meskipun aku tahu potongan musik yang sedang dimainkan pernah kumainkan sebelumnya, namun apa, kupikir. Aku mulai terhuyung-huyung karena aku sedikit mabuk. Beberapa hal muncul di pikiranku saat aku menutup mata. Mengikuti api yang membara, suara piano di antara panasnya, kondisi mabuk (membuat semua itu) menjadi kabur.

image

Tiba-tiba, aku mendengar suara siulan, beberapa mobil melewatiku dengan bahayanya. Lampu depannya menyala dan angin bertiup ke arahku ketika mobil itu melewatiku, kondisiku yang mabuk membuat tubuhku bergetar dalam kekacauan ini. Aku bisa mendengar suara omelan pengemudinya. Aku berhenti dan ingin balik mengomel namun aku tiba-tiba sadar bahwa suara piano yang tadi kudengar sudah menghilang. Di antara api, suara angin dan mobil, aku tidak bisa mendengar suara piano itu. Sepertinya sudah berhenti. Kenapa berhenti? Dan siapa yang memainkan pianonya?

Dengan bunyi “kratak”, api menghilang dalam kegelapan. Aku menatap kosong pada pemandangan itu. Panasnya mengarah ke wajahku. Aku mendengar bunyi “daang”, (seperti seseorang) menggunakan kepalan tangan untuk memukul piano. Aku menoleh ke belakang karena gerakan refleks. Pada saat itu, rasanya seperti darahku berhenti mengalir dan aku tidak bisa bernapas dengan benar. Seperti suara yang kudengar ketika aku bermimpi buruk (ketika aku kecil). (T/N: Sejujurnya aku tidak bisa mengerti paragraf ini dengan tepat. Kurasa ada salah terjemah.)

image

Detik selanjutnya aku berlari. Bukan pikiranku namun tubuhku. Aku berlari ke toko peralatan musik. Aku tidak tahu kenapa namun rasanya seperti saat ini terulang berkali-kali. Rasanya seperti aku melupakan sesuatu yang harus kulakukan.

Di dalam toko peralatan musik yang jendelanya pecah, siapa yang duduk di depan piano. Meskipun sudah beberapa tahun namun aku menangis dan mengepalkan tanganku setiap kali aku memikirkannya. Aku tidak ingin punya hubungan dengan siapapun. Aku tidak ingin menghibur kesepian siapapun, tidak ingin jadi orang yang berharga bagi siapapun. Karena aku sudah tidak punya kepercayaan diri untuk melindungi kepercayaan diri orang itu, tidak punya kepercayaan diri untuk tetap bersamanya sampai akhir. Karena aku tidak ingin melukai siapapun atau tidak ingin siapapun terluka.

Aku perlahan melangkah. Aku ingin berbalik dan pergi namun aku tanpa sadar bergerak mendekat pada seseorang yang memainkan nada yang salah. Namun Jungkook mengangkat kepalanya dan menatapku, “Hyung”. Itu adalah kali pertama kami bertemu setelah aku keluar dari sekolah.

——————————

Yoongi
Tahun 22, 8 Juni

Aku melepas bajuku lagi. Diriku di cermin tidak terlihat seperti diriku. Kaos dengan kata “mimpi” tidak tampak seperti gayaku tidak peduli bagaimanapun kau melihatnya. Merah, kata “mimpi”, desainnya yang ketat, aku tidak menyukainya. Karena aku terlalu kesal, aku mengeluarkan sebatang rokok dan mulai mencari pemantik. Karena di dalam saku jeans-ku tidak ada, aku membalikkan tasku. Dia terkejut dan mengambil pemantik milikku dariku dan melempar sebuah lolipop ke arahku beserta baju ini.

Aku bangun dari tempat dudukku sambil menggaruk kepalaku. Suara SMS bisa terdengar dari ponselku. Menatap 3 nama di layar ponselku, hatiku terasa berat. Setelah mengkonfirmasi beritanya, aku mematahkan rokok menjadi dua. Detik selanjutnya “diriku” di cermin tertawa. Bagaimana mengenakan kaos “mimpi” merah itu bagus? Aku tertawa seperti orang bodoh.

——————————

Credits:

Eng trans: @TXYfifteen via https://mimibtsghost.tumblr.com/post/165532746773/eng-trans-bts-hyyh-the-notes

Indo trans: http://www.unreadablebook.wordpress.com

Take out with FULL CREDITS.

Sejujurnya agak bingung nerjemahin beberapa part karena eng transnya juga agak aneh di beberapa part. T/N (translator note) itu punyanya yg nerjemahin ke bahasa Inggris bukan dari diriku yaaach~ Ya sudahlah ya 😂

Di note-nya Jungkook kaya niat bunuh diri lompat dari atas gedung belom jadi gitu, tapi kata Hoseok Hyung kecelakaan, dan di video juga kaya mau ketabrak mobil, jadi mungkin Jungkook-nya ga jadi mau bunuh diri kali yaa~ eh tapi emang dasar lagi sial #plak malah ketabrak mobil 😥

Ini gue post notesnya patokannya Seokjin krn dia yg paling tuir #plak
Terus kan note-nya Jungkook punya tanggal yg sama jadi gue post jg, nah terus di notes Jungkook ada lagi yg sama tanggalnya sama punya Yoongs jd punya Yoongs gue post juga :B

Gimana udah pusing belom?
Katanya mah disuruh jangan bikin2 teori lagi, tapi disodorin beginian
Ngeselin emang 😂😂😂

Part Hoseok, Jimin: https://unreadablebook.wordpress.com/2017/09/22/hyyh-notes-hoseok-jimin/

Part Namjoon, Taehyung: https://unreadablebook.wordpress.com/2017/09/22/hyyh-notes-namjoon-taehyung/

Advertisements

2 thoughts on “HYYH Notes: Seokjin, Jungkook, Yoongi

  1. Pingback: HYYH Notes: Hoseok, Jimin | This is Hallyu!

  2. Pingback: HYYH Notes: Namjoon, Taehyung | This is Hallyu!

Thank you for reading. Leave a comment? ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s