Demian, Chapter 6

Ringkasan

Sinclair memikirkan sifatnya saat pembicaraannya dengan Pistorius. Meskipun terisolasi dari teman sebayanya, dia terlibat dalam masa pertumbuhan dan  penemuan jati diri. Pistorius menjadi semacam panutan yang menyemangati, yang selalu mendengarkan apa yang Sinclair ucapkan dan yang mencoba membantunya lanjut meneliti pemikiran-pemikirannya. Bersama, mereka “memuja” Abraxas dan membicarakan impian, hasrat, dan dunia. Pistorius memberitahu Sinclair bahwa dia “tidak bisa mempertimbangkan untuk melarang apa yang diinginkan jiwa.” Sinclair, masih tidak yakin akan hal ini, membalas pernyataan tegas Pistorius, mengatakan bahwa, misalnya, seseorang tidak harus membunuh seseorang sekedar karena dia tidak menyukai orang itu. Pistorius merespon bahwa bahkan hal seperti itupun, di bawah keadaan tertentu dapat diterima. Sinclair dikejutkan oleh ikatan antara pernyataan ini dengan hal yang pernah dikatakan Demian padanya (T/N: bahwa Sinclair harus menghentikan Kromer bahkan jika itu berarti membunuhnya).

Pulang ke rumah suatu malam, Sinclair dihampiri oleh Knauer, salah satu teman sekelasnya. Knauer bicara pada Sinclair mengenai latihan spritiual yang dia lakukan, Knauer mengungkapkan bahwa dirinya membujang dan bersikeras bahwa untuk menjalani hidup spiritual, seseorang harus tetap membujang.
Knauer mengakui bahwa dirinya berpikir tentang seks dan hal ini membuat lebih sulit untuk tetap membujang. Dia mengaku dirinya butuh bantuan—dia mengalami masa sulit menahan hasratnya. Sinclair bilang satu-satunya saran yang bisa dia berikan adalah Knauer harus belajar untuk menerima siapa dirinya dan untuk bertindak demikian untuk memenuhi keinginannya. Knauer marah, mengatakan bahwa Sinclair adalah babi.

Sinclair kembali ke kamarnya, tenggelam dalam mimpinya tentang elang, ibunya, dan wanita yang tampak seperti Demian. Dia melukis lukisan lainnya tentang wanita itu dan menyadari sekarang bahwa wanita itu juga memiliki beberapa fitur yang mirip dengan Sinclair sendiri. Dunia dalam diri Sinclair menjadi sengit. Dia bereaksi sangat kuat pada lukisan tersebut. Tidak bisa tidur, dia mandi di tengah malam dan berjalan-jalan. Berjalan berkelok-kelok, dia berakhir di sebuah gang kecil. Dia melihat Knauer, yang menerka-nerka bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Knauer mengaku bahwa dirinya hendak bunuh diri.

Minggu-minggu terakhir Sinclair di sekolah dihabiskan bersama Pistorius. Dia memperoleh jawaban dari semua pertanyaannya dengan berkonsentrasi sungguh-sungguh pada wanita ideal dalam lukisannya. Knauer mulai menempel pada Sinclair dan mengikutinya ke mana-mana, namun pada akhirnya mereka hilang kontak.

Sinclair mulai menyadari batasan Pistorius. Dia tidak lagi melihatnya sebagai seorang pria dengan wibawa yang besar, seorang mentor yang dijadikannya panutan. Sinclair mulai merasa kebanyakan dari apa yang Pistorius katakan padanya tidak begitu relevan. Dia merasa seperti Pistorius memberinya sejarah impersonal yang kusam, bukannya pengalamanan personal yang hidup. Dia mengatakan demikian pada Pistorius dan mencacinya karena “kuno”.

Pictorius menerima kritik Sinclair secara sangat personal. Kritik itu sepertinya menurunkan Pictorius. Interaksi mereka berubah tanpa bisa diperbaiki. Dalam percakapan setelahnya, Pictorius mengakui batasannya—bahwa dia bukan pria yang bisa mengaktualisasikan gagasan-gagasan yang mereka diskusikan, pria yang bisa membawa Abraxas pada dunia. Sinclair merasa seperti dirinya telah kehilangan seorang “pemandu” dan tidak yakin bagaimana untuk maju. Ditentukannya bahwa dia akan memasuki universitas setelah liburan dan memulainya dengan belajar filosopi.

Analisis

Gagasan tentang membunuh seseorang sering muncul dalam novel namun terutama terkemuka pada awal bab ini dalam hubungannya dengan percakapan antara Sinclair dan Pistorius. Pembunuhan secara umum dipandang sebagai tindakan yang paling salah yang bisa dilakukan seseorang. Sehingga, bisa dipertimbangkan bahwa contoh ini akan digunakan, untuk memperjelas bagaimana radikalnya posisi yang Pistorius (pada bab ini) ataupun Demian (pada bab lain) perdebatkan. Tema ini muncul beberapa kali dalam novel, pertama di bab perkenalan ketika Demian mengusulkan pada Sinclair bahwa Kromer harus dihentikan bahkan jika itu berarti membunuhnya.

Fakta bahwa lukisan terbaru Sinclair tentang gadis impiannya yang sebagian mirip dengannya itu sangat simbolis—sebuah indikasi lebih jauh tentang perkembangan Sinclair. Karena lukisan sebelumnya dari perempuan ini tidak mirip dengannya, kita bisa bilang bahwa untuk sementara, Sinclairlah yang telah menjadi lebih seperti wanita itu. Wanita itu, namun demikian, mewakili wanita idealnya yang mencakup segalanya. Lukisan ini, kemudian, menandakan bahwa Sinclair bergerak mendekat pada sosok ideal tersebut—begitu dekat, faktanya, beberapa ciri Sinclair dapat dikenali sebagai fitur ideal ini.

Hubungan Sinclair dengan Knauer adalah sebuah pembangunan sastra yang menarik. Sepanjang novel Sinclair menemukan dirinya sendiri dalam posisi mencari bimbingan orang lain. Demian dan Pistorius, dan pada tingkatan yang lebih rendah, Frau Eva dan Beck bertindak sebagai mentor bagi Sinclair. Knauer menginginkan Sinclair untuk menjadi mentornya. Dia mencari bimbingan dan pertolongan Sinclair. Lebih dari itu, ketika Knauer bermaksud untuk bunuh diri, dia memanggil Sinclair. Meskipun Sinclair tidak ingin mengakuinya, dia diantar menuju Knauer dalam cara yang banyak sama dengan cara Demian atau Pistorius seringnya diantar padanya ketika dia membutuhkan salah satunya. Episode ini memberikan kita kesempatan utnuk melihat bagaimanakah Sinclair dalam peran yang berbeda. Juga garis-bawahi ketidak dewasaannya pada titik ini—dia tidak melakukan tindakan yang baik dan mementori Knauer. Hal ini juga menunjukan dirinya sebagai orang yang sungguh egois—dia menaruh sangat sedikit ketertarikan untuk menolong Knauer dalam hal yang Demian dan Pistorius telah menolongnya.

Beberapa gambaran dalam bab ini perlu untuk dicatat. Setelah Sinclair membebankan serangannya pada Pistorius, mereka duduk “di depan api yang hampir mati”. Apinya nyaris mati, sama seperti hubungan mereka yang sekarat. Nama Pistorius sendiri adalah sesuatu yang simbolis. “Pistorius” terdengar seperti sebuah nama Yunani kuno. Sinclair menemukan bahwa Pistorius hanya bisa mengajarkannya tentang masa lalu, namun tidak bisa mengemukakan sesuatu yang baru. Namanya, bertentangan dengan apa yang terdengar lebih modern seperti “Demian”, menekankan batasan dari kemampuan Pistorius.

Di akhir bab, Sinclair menulis bahwa dia “tidak bisa mengambil langkah lainnya sendirian”. Dia merenungkan untuk mengirim pesan ini pada Demian namun memutuskan tidak melakukannya. Hal ini mencerminkan tingginya kadar keraguan dalam diri Sinclair. Lagipula, mengapa menulis pemikiran ini dengan begitu ringkas namun jelas jika seseorang tidak bermaksud mengirimnya? Sinclair itu takut sendirian sekaligus takut mengakui kepada Demian bahwa dirinya takut sendirian.

“Aku menulis pada selembar kertas: Seorang pemimpin telah meninggalkanku, aku diselimuti kegelapan. Aku tidak bisa mengambil langkah lainnya sendirian. Tolong aku!”

Credits:
Karya asli oleh Hermann Hesse
Ringkasan dan analisis (eng): http://m.sparknotes.com/lit/demian/section1.rhtm
Indo trans: http://www.unreadablebook.wordpress.com

Take out with FULL CREDITS

Related terms: demian hermann hesse bts bangtan boys bangtan sonyeondan short film wings terjemahan bahasa indonesia

Thank you for reading. Leave a comment? ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s