Demian, Chapter 3

Ringkasan

Sinclair yang lebih tua membayangkan masa kecilnya dan pengaruh dunia kegelapan yang “merobek” dirinya dari kepolosannya dan orang tuanya. Dia mengamati bahwa belajar bagaimana untuk mengendalikan hasrat seksual yang baru ditemukan dalam masa remajanya dan bagaimana untuk mengimbangi apa yang melawan nilai-nilai didikannya terbukti adalah sebuah tugas yang teramat sulit di mana dia gagal melakukannya.

Beberapa tahun telah berlalu, selama itu Sinclair hanya berhubungan yang tidak begitu penting dengan Demian. Kemudian, ketika Sinclair mulai mengambil beberapa kelas menuju pengesahan*, dia mengetahui bahwa Demian juga akan mengambil kelas yang sama. Ketika kelas-kelas tersebut dimulai, Sinclair dengan sengaja menghindari Demian—dia masih merasa berhutang dengan canggungnya kepada Demian atas pertolongannya membebaskan Sinclair dari Kromer beberapa tahun sebelumnya.

Ketika Sinclair menjadi kurang tertarik dengan percakapannya, dia menjadi lebih dan lebih berminat dengan Demian. Dia masih merasakan ikatan dengannya dari tahun-tahun lalu. Suatu hari sang pastor memberitahukan kisah mengenai Cain dan Abel. Ketika dia mulai bicara tentang tanda Cain, Demian dan Sinclair menatap satu sama lain secara sadar dari sebrang ruangan—apa yang pastor ajarkan tidak harus menjadi kesimpulan dari kisah tersebut, mereka pikir. Saat-saat itu menarik Sinclair dan Demian kembali bersama. Segera setelahnya, Demian menukar tempatnya dan duduk di sebelah Sinclair.

Sinclair akhirnya mulai menikmati kelas pengesahan. Sebuah lirikan dari Demian pada suatu titik dalam pelajaran bisa membuatnya mempertanyakan apa yang guru katakan. Selanjutnya, dia melihat Demian bermain segala macam permainan psikologis dengan para murid dan guru. Demian tampak menggunakan kekuatan yang luar biasa mengendalikan tindakan orang-orang. Sinclair bertanya kepadanya mengenai bagaimana dia tampak bagaikan puppet master (dalang) atas orang lain (mampu mengendalikan mereka). Demian membalas bahwa dengan konsentrasi yang cukup keras dia bisa mempelajari bagaimana cara membaca pikiran orang-orang. Lebih dari itu, jika seseorang cukup memiliki keinginan akan sesuatu, dan sesuatu itu memungkinkan, maka dia akan meraihnya. Demian menggunakan dua prinsip itu untuk menjelaskan bagaimana dia memindahkan tempat duduknya ke sebelah Sinclair dan bagaimana dia bisa mempengaruhi apa yang guru lakukan dengan menatap padanya.

Kepercayaan agamis Sinclair mulai berkurang. Namun demikian, tidak seperti teman sekelasnya yang sepenuhnya mengingkari kebenaran tentang semua ke-Nasrani-an, dia menghormati nilai dari hidup taat secara agama. Daripada menolak kitab Injil dan kepercayaan Nasrani sepenuhnya, Sinclair menawarkan interpretasi yang berbeda, mungkin lebih fantastis. Suatu hari setelah kelas dimana mereka membicarakan mengenai penyaliban, Demian menawarkan kepada Sinclair sebuah usulan radikal. Sinclair merasa harus menolak usulan Demian karena terlalu radikal—sesuatu yang harus dijaga tetap keramat. Namun, Demian terus saja melakukannya—Tuhan dari kitab Injil mungkin mewakili semua yang baik dan terhormat, namun, dia (Demian) bersikeras, ada sesuatu yang lebih. Seseorang pastilah juga memuja setan atau memuja dewa yang mewujudkan kebaikan dan kejahatan sekaligus.

Sinclair sangat gembira Demian telah menyentuh pikiran terdalamnya mengenai adanya dua alam. Dia mencoba membahasnya, namun Demian menghentikan percakapan tiba-tiba, memberitahunya bahwa dia belum memahami arti seluruhnya dari apa yang dia katakan.

Ketika kelas pengesahan mendekati, Sinclair dan Demian menjauh. Hari pengesahan tiba dan Sinclair mengetahui bahwa setelah liburan dia akan dikirim ke sekolah asrama.

Analisis

Dari pada menceritakan kisah di awal bab ini, Sinclair membuat beberapa komentar umum mengenai hidup dan tumbuh dewasa.
Sebagai tambahan, dia mengungkapkan fakta paling penting dari tahun-tahun dalam kehidupannya di antara beberapa kejadian. Jeda kecil ini membiarkan penulis untuk mengindikasikan pergantian masa tanpa menyimpang dari arah pokok cerita—perkembangan pribadi Sinclair. Lebih jauh lagi, pergantian yang diperpanjang ini mengingatkan pembaca akan poin penting dari sudut pandang novel—segala kisah yang diceritakan disaring lewat seseorang yang bukan seorang narator mahatahu. Sinclair yang bertambah usia tidak mengetahui pikiran dalam diri para karakter. Sinclair pasti menceritakan kisah dengan cara berbeda sekarang dibanding bagaimana dia akan menceritakannya ketika mereka terjadi pada masanya.

Kesan tentang Demian yang ditunjukan dalam bab ini, seperti sebelumnya, adalah seseorang yang dikagumi dan dipuji.
Demian diperlihatkan mempermainkan orang lain secara psikologis, memiliki kemampuan dan pemahaman yang hampir mencapai tingkat manusia super. Sinclair masih sangat mudah dipengaruhi dan mau mengikuti apapun yang Demian suruh. Ini menginformasikan kesan yang kita dapat tentang Demian dari masa ini. Ketika bukunya mengalami kemajuan, kita akan melihat bahwa saat Sinclair menjadi lebih mandiri, dia berhenti meninggikan Demian ke arah status yang sempurna.

Usulan Demian bahwa lebih baik memuja dewa dari kebaikan dan kejahatan sekaligus membayangi kegilaan-kegilaan Sinclair nantinya bersama Abraxas, makhluk yang sudah lama dilupakan berasal dari masa kuno yang dibayangkan sebagai dewa oleh mereka yang memujanya. Lebih dari itu, hal ini membangkitkan kembali pemikiran Sinclair mengenai dua dunia. Dalam menentang Demian bahwa beberapa hal itu dilarang dan bahwa “kita harus meninggalkannya,” Demian menunjukan bahwa dia (Sinclair) masih terjebak di antara dua dunia. Dia belum belajar untuk memikirkan dirinya sendiri sepenuhnya di atas arti dari kejahatan. Keinginannya belum sepenuhnya berkembang dan dia belum melebihi konsepsi umum tentang kejahatan, berpikir seluruhnya untuk dirinya sendiri. Dia belum menyadari bahwa keinginannya bisa jauh lebih kuat dari sekedar dekrit moral. Inilah mengapa Demian memotongnya dan memberi tahunya bahwa dia (Sinclair) belum sepenuhnya paham atas implikasi dari apa yang dia katakan. Dia berhak melihat bahwa dua dunia itu, alam baik dan buruk, diperlukan dan penting. Namun, dia belum menyadari kekuatan penuh dari gagasan ini—yang akhirnya, bisa membebaskannya dari pernah menyebut sesuatu itu mutlak terlarang.

Dalam paragraf terakhir dari bab ini, kita melihat betapa pentingnya perubahan yang dialami Sinclair. Walupun dia bicara tentang ibunya yang memanjakannya, dia bilang bahwa “Demian sedang pergi berlibur. Aku sendirian.” Demian telah menggantikan ibunya sebagai figur sentral dalam hidupnya. Jika diumpamakan, Demian mewakili dunia kegelapan dan orang tuanya mewakili dunia cahaya, paragraf ini menggambarkan Sinclair telah berpindah dari dunia orang tuanya ke dunia Demian, dari “baik” dan mulia ke arah alam yang “buruk” dan tidak sopan.

*pengesahan = Confirmation, yaitu ketika seseorang disahkan ke dalam gereja Nasrani.

image

Credits:
Karya asli oleh Hermann Hesse
Ringkasan dan analisis (eng): http://m.sparknotes.com/lit/demian/section1.rhtm
Indo trans: http://www.unreadablebook.wordpress.com

Take out with FULL CREDITS

Related terms: demian hermann hesse bts bangtan boys bangtan sonyeondan short film wings terjemahan bahasa indonesia

Thank you for reading. Leave a comment? ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s