LuHan di Majalah Harper’s BAZAAR Bulan November 2015 – Bagian Dua: Tiga hari syuting cuma jadi patung?

image

Tak Ada Tentara, Tak Ada Jenderal

“Perwakilan kelas musik nasional” Tuan Luhan tidak merasa puas dengan “album pertamanya”; dia juga ingin menjadi “orang yang cakap dalam berbagai hal”. Di tempat syuting episode pertama Bazaar Show, Luhan menyelesaikan sebuah rubik dalam waktu 50 detik seperti seorang pemain profesional. Selain itu, kemampuan lainnya adalah “bernyanyi sambil meniru suara bebek”, “muncul dan berjinjit dalam sepatu kulit”*… Kemampuan-kemampuan keren itu tersembunyi dalam popularitasnya yang super tinggi yang digambarkan sebagai yang jelas-jelas “real man” di dunia musik.

Dia juga masuk ke industri film dengan kecepatan yang ekstrem sampai sulit di hitung. Di awal tahun 2015, film pertama di mana Luhan ikut berpartisipasi yaitu “Back to 20” mencatat rekor baru di box office film Cina-Korea. Kali ini film barunya “The Witness” dan “The Great Wall” juga sudah rampung. Karakter utama dalam “The Great Wall”, seorang artis Hollywood Matt Damon mengungkapkan bahwa dia “terpesona” dengan popularitas Luhan yang super tinggi.

Namun Luhan tidak tersentuh dengan pencapaian yang sudah dia raih. “Dalam hal akting, aku masih pemula, dan aku masih harus berlatih banyak.” Dia mengernyit sedikit sebelum kembali ke posisi sigap. Kami bertanya padanya, setelah mencoba beberapa film, apakah dia berpikir berakting itu lebih mudah atau lebih sulit? Dia tidak lekas menunjukan respon apapun, namun dia memberi kami jawaban “Aku tidak tahu” setelah berpikir lama. “Saat aku mengumpulkan lebih banyak pengalaman dan pemikiran tentang berakting di masa depan, aku mungkin punya jawaban untuk pertanyaan tentang derajat kesulitan ini.” Dia tidak merencanakan apapun yang tidak bisa digenggamnya dan tidak akan pernah menjawab pertanyaan konkret yang ditujukan padanya dengan kasual begitu saja. Satu hal yang pasti adalah sebagai aktor Luhan menemukan “kesenangan besar” yang dia tidak pernah rasakan sebelumnya. “Merasakan hidup yang berbeda. Untuk sekarang, aku ingin mencoba peran apa saja yang baru bagiku. Dan ada banyak aktor dan sutradara yang aku mau bekerja sama dengan mereka, soalnya aku punya banyak idola saat kecil. Sekarang ada lebih banyak orang yang aku ingin berakting bersama mereka. Kuharap suatu hari nanti mimpiku akan menjadi nyata.” Mengucapkan hal ini, Luhan menunjukan senyumnya yang unik dengan optimisme sederhana dan sedikit rasa bangga.

Mengagumkan bagaimana ada banyak aspek dalam diri Luhan. Terkadang dia tak punya rasa takut; kadang dia pemalu dan tidak bisa bicara. Namun jika kau menunggu dengan sabar dan bertanya satu-satu, dia akan menunjukan sisi humornya. Kami bertanya, “Apa ada hal yang baru pertama kali kamu rasakan saat syuting “The Great Wall”? Dia menjawab, “Semua yang terjadi selama syuting saat itu adalah pertama bagiku.” “Contohnya?” “…Perjalanan blockbuster internasional.” Adalah kalimat Luhan yang membuat dirinya sendiri tertawa setelah mengatakannya. Dia tidak pernah berpikir akan menjadi bagian dari sebuah “produksi besar” dan tidak pernah menyangka kalau adegan pertamanya adalah “berperan sebagai patung”. Mengenakan baju baja seberat 12 kilogram dan membawa senjata asli—sebuah tombak sepanjang 4,5 meter—dia melangkah dan membuat gerakan menusuk, kemudian diam sepanjang hari. “Sulit menjaga keseimbangan. Jika aku salah memegang senjatanya, aku bahkan tidak bisa berdiri.” Tentara Lu membagikan pelajaran, “Namun itu tidak begitu melelahkan saat aku melakukan hal yang sama di hari kedua dan ketiga. Setelah syuting “The Great Wall”, bentuk badanku jadi lebih baik dari sebelumnya dan ototku juga membesar, lihat!” Dia hampir menggulung lengan bajunya dan menunjukkan ototnya namun akhirnya berhenti setelah ragu-ragu.

Luhan merasa beruntung berakting sebagai tentara kecil. “Para tentara juga sangat penting. Tidak ada tentara maka tidak ada jenderal.” Dia bilang, sebelum bergabung dengan para pemain dan crew, dia pikir jika dia tidak ada giliran syuting, dia bisa tetap tinggal di lokasi, mengamati dan belajar bagaimana aktor senior berakting. Namun saat dia benar-benar di sana, dia menemukan bahwa dalam sebuah “kelompok internasional yang besar”, ada sangat banyak staff, masing-masing melakukan tugas mereka sendiri. Lokasi syuting penuh, tanpa ada tempat untuk melangkah. “Pada akhirnya aku hanya aktor pemula, saat aku tidak ada giliran, aku bahkan tidak tahu di mana harus berdiri agar tidak membuat masalah untuk yang lain. Jadi aku hanya berdiri diam di tempatku yang kecil dan menunggu mereka memanggilku untuk berakting kapan saja.”
.
.
.
Credits
Eng trans: LuHan International @luking0420
Indo trans: http://www.unreadablebook.wordpress.com

* kayanya sih nyindir Luhan yang sampe jinjit waktu di foto di semacem red carpet acara apa gitu #plak acara HB sih kayanya #plak waktu itu kostumnya kaya anak moge pokonya

Whut? Jadi Luhan selama tiga hari syuting perannya cuma jadi patung berdiri diem pegang senjata? Hahah kesian amat
Udah mana mau berdiri juga bingung di mana :’v
Bener-bener dah
#pukpukLuhan

image

Related terms: lu han luhan harper’s bazaar

Thank you for reading. Leave a comment? ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s